Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • adimin 10:47 on August 17, 2013 Permalink | Reply
    Tags: steak   

    Steak Hotel Holycow – Juli 2013 

    Per juli 2013, steak hotel holycow belum mendapatkan sertifkat halal dari MUI.

    sumber : akun twitter resmi LPPOM MUI

    “Holycow blm dpt SH dr MUI RT @syarif81: @halalindonesia steak hotel holycow halal kah?”

     
  • adimin 22:04 on August 16, 2013 Permalink | Reply
    Tags:   

    Bahan Pembuat Produk Bakery dan Kue (Bagian 1)

     

    Dr. Ir. Anton Apriyantono

     

    Halal Watch

     

                Produk bakery adalah produk makanan yang bahan utamanya adalah tepung (kebanyakan tepung terigu) dan dalam pengolahannya melibatkan proses pemanggangan.  Kue sendiri ada yang dibuat melalui proses pemanggangan, ada yang tidak. Produk bakery contohnya adalah roti, biskuit, pie, pastry, dll.  Dalam kehidupan sehari-hari produk bakery dan kue banyak sekali kita temui dan konsumsi.  Sebagian produk ini dikemas dan informasi mengenai daftar ingredien yang digunakan dalam pembuatannya dicantumkan dalam kemasan, selain itu status kehalalannya juga bisa kita baca di kemasan yaitu adanya label atau logo halal pada produk produk yang sudah memiliki nomor pendaftaran BPOM MD (produk dalam negeri) atau BPOM ML (produk luar negeri).  Adanya label halal tentu akan memudahkan kita untuk memilih mana produk yang telah dijamin kehalalannya oleh yang berwenang.  Akan tetapi, banyak juga produk bakery dan kue yang tidak dikemas sehingga informasi mengenai status kehalalan dan ingredien yang digunakannya tidak diketahui.  Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bahan bahan apa saja yang biasa digunakan dalam pembuatan kedua produk tersebut, lalu bagaimana status kehalalannya.  Pengetahuan ini akan kita gunakan untuk menilai produk produk bakery dan kue yang akan kita produksi atau konsumsi, jangan sampai kita memrpoduksi atau mengkonsumsi produk yang kehalalannya diragukan atau bahkan haram.

     

                Berikut ini akan dikemukakan berbagai jenis ingredien (bahan) utama yang biasa digunakan dalam pembuatan produk bakery dan kue lalu diulas jenis jenis variasi yang mungkin digunakan, asal usul bahan, cara pembuatan (jika diperlukan) serta status kehalalan bahan bahan tersebut.  Perlu diketahui bahwa variasi jenis bahan sangat besar sekali dan segala kemungkinan akan selalu ada, oleh karena itu sekali lagi hal ini mengingatkan kepada kita agar lebih berhati-hati dalam memilih bahan pembuat produk bakery dan kue agar produk yang kita hasilkan benar-benar halal.  Selain itu, tentu saja kita harus memilih produk yang kita yakini kehalalannya, baik berdasarkan kepada adanya jaminan kehalalan yang diberikan oleh badan yang berwenang juga didasarkan atas pengetahuan kita.  Jika kita berada pada suatu posisi ragu-ragu dalam memilih atau mengkonsumsi suatu produk maka kita diharuskan meninggalkan produk yang kita ragukan tersebut.

     

    Tepung Terigu

     

                Tepung terigu adalah bahan utama dalam pembuatan produk bakery dan kue, sedangkan jenis tepung lainnya yang digunakan baik sebagai bahan utama atau sebagai bahan pensubstitusi adalah tepung rye, tepung beras, tepung jagung, dll.  Tepung terigu dibuat dari biji gandum yang digiling dan diayak sehingga diperoleh tepung dengan besar partikel tertentu.

     

                Secara garis besar ada dua jenis tepung gandum yaitu tepung gandum keras (strong flour) dan tepung gandum lunak (soft flour).  Tepung gandum keras biasanya digunakan untuk membuat roti dan produk-produk yang dibuat dengan melibatkan proses fermentasi serta puff pastry.  Tepung terigu lunak biasanya digunakan untuk membuat biskuit dan kue.  Perbedaan utama tepung terigu keras dan tepung terigu lunak terletak pada kandungan glutennnya, dimana tepung terigu keras mengandung gluten sekitar 13% sedangkan tepung terigu lunak kandungan glutennya sekitar 8.3%.  Gluten inilah yang bertanggungjawab terhadap sifat pengembangan adonan tepung terigu setelah ditambah air dan ditambah bahan pengembang atau difermentasi dengan menggunakan ragi/yeast (gist).

     

    Pada pembuatan tepung gandum seringkali ditambahkan bahan-bahan aditif yang berfungsi untuk meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang dihasilkan.  Salah satu bahan aditif yang dapat ditambahkan pada pembuatan tepung gandum yaitu L-sistein (biasanya dalam bentuk hidrokloridanya) yang berfungsi sebagai improving agent (meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang diinginkan).  Sistein dapat melembutkan gluten (protein utama gandum yang berperan dalam pengembangan adonan yang dibuat dari tepung gandum), dengan demikian adonan tepung gandum menjadi lebih lembut.  Disamping melembutkan, adanya sistein dapat mengakibatkan pengembangan adonan yang lebih besar.

     

    Selain L-sistein ternyata cukup banyak bahan aditif lain yang mungkin digunakan dalam pengolahan tepung terigu.  Penambahan aditif ini disamping untuk memperbaiki sifat-sifat alami tepung terigu, khususnya sifat-sifat tepung yang sesuai dengan proses pemanggangan (misalnya memendekkan waktu penanganan dengan input energi rendah), juga untuk menjaga keseragaman mutu tepung terigu serta sesuai dengan standar yang berlaku.  Penambahan asam askorbat, bromat alkali atau enzim lipoksigenase dari kedele akan meningkatkan kualitas gluten tepung gandum yang lemah, misalnya pada pembuatan roti.  Dalam hal ini, adonan menjadi lebih kering, resistensi terhadap ekstensi meningkat, lebih toleran pada pencampuran dan lebih stabil selama fermentasi.  Selain itu, volume adonan selama pemanggangan meningkat dan struktur crumb (bagian dalam roti) menjadi lebih baik.  Penambahan enzim proteinase pada tepung terigu dapat mengakibatkan adonan yang dibuat menjadi lebih lembut.  Penambahan enzim alfa-amilase dalam bentuk tepung malt atau tepung enzim hasil kerja mikroorganisme dapat meningkatkan kemampuan menghidrolisa pati yang dikandung dalam tepung terigu, dengan demikian khamir yang tumbuh pada pembuatan adonan mendapat energi yang cukup sehingga pembentukan karbon dioksida optimal dan pengembangan adonan menjadi optimal.

     

    L-sistein yang murah yang banyak tersedia di pasaran adalah L-sistein yang dibuat dari rambut manusia, khususnya yang diproduksi di Cina.  Tentu saja karena berasal dari bagian tubuh manusia maka L-sistein ini haram sehingga tepung terigu yang menggunakan L-sistein dari rambut manusia haram hukumnya bagi umat Islam.  Walaupun demikian perlu diketahui bahwa L-sistein selain dari rambut manusia, bisa juga diperoleh dari bulu unggas.  Seperti diketahui rambut dan bulu banyak mengandung L-sistein.  Untungnya sekarang sudah ada L-sistein yang diproduksi secara fermentasi dan boleh digunakan, hanya saja harganya memang lebih mahal.  Jadi, sebetulnya tepung terigu yang ada di pasaran belum tentu haram walaupun menggunakan L-sistein, tergantung darimana L-sistein berasal.  Untungnya hampir semua tepung terigu yang diproduksi didalam negeri telah mendapatkan sertifikat halal, hal ini tentunya sangat menguntungkan konsumen.  Akan tetapi, kita masih perlu waspada terhadap tepung terigu impor yang masih belum mendapatkan sertifikat halal, jika ditemui tepung terigu yang belum terjamin kehalalannya (tidak ada logo halal di kemasannya) tentu harus kita hindari.

     

    Disamping bahan aditif yang ditambahkan kedalam tepung terigu untuk maksud memperbaiki sifat tepung terigu, ada pula bahan aditif yang ditambahkan kedalam tepung terigu dengan maksud untuk memperkaya nilai gizinya.  Bahan aditif yang biasa ditambahkan untuk memperkaya nilai gizi tepung terigu yaitu mineral dan vitamin.  Dari segi kehalalan, yang patut diperhatikan adalah penambahan vitamin vitamin yang tidak larut dalam lemak dan mudah rusak selama penyimpanan diantaranya vitamin A.  Agar vitamin A mudah larut dalam produk pangan berair (aqueous) dan agar tidak mudah rusak selama penyimpanan maka vitamin A biasanya disalut.  Bahan penyalut yang digunakan selain bahan yang halal seperti berbagai jenis gum juga bahan yang diragukan kehalalannya yaitu gelatin.

     

    Ragi/Yeast (Gist)

     

                Dalam pembuatan roti, ragi/yeast dibutuhkan agar adonan bisa mengembang. Ragi/yeast biasanya ditambahkan setelah tepung terigu ditambah air lalu diaduk-aduk merata, setelah itu selanjutnya adonan dibiarkan beberapa waktu.  Ragi/yeast sendiri sebetulnya mikroorganisme, suatu mahluk hidup berukuran kecil, biasanya dari jenis Saccharomyces cerevisiae yang digunakan dalam pembuatan roti ini.  Pada kondisi air yang cukup dan adanya makanan bagi ragi/yeast, khususnya gula, maka yeast akan tumbuh dengan mengubah gula menjadi gas karbondioksida dan senyawa beraroma.  Gas karbondioksida yang terbentuk kemudian ditahan oleh adonan sehingga adonan menjadi mengembang.

     

                Secara komersial ragi/yeast dapat diperoleh dalam 3 bentuk, yaitu compressed yeast (bentuk cair dengan kandungan yeast yang padat); active dry yeast (ragi bentuk kering, perlu diaktifkan dulu sebelum digunakan) dan instant active dry yeast (ragi instan, bentuk kering yang bisa langsung digunakan, tanpa perlu diaktifkan lagi).  Di super market biasanya yang tersedia adalah yang instant active dry yeast (ragi instan), bisa langsung digunakan, tinggal dimasukkan kedalam adonan.

     

                Apapun bentuk ragi/yeast yang kita gunakan ternyata isinya tidak hanya yeast tapi juga sejumlah kecil bahan aditif apakah bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan tujuan tertentu dalam pembuatan ragi, atau juga bahan yang berasal dari media (bahan makanan yeast yang diperlukan pada waktu perbanyakan yeast) yang tersisa, atau bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan meningkatkan stabilitasnya selama penyimpanan seperti tidak menggumpal, bisa juga mengandung bahan pengisi.  Dari segi kehalalan bahan aditif inilah yang perlu dicermati kehalalannya.  Pada pembuatan compressed yeast sering ditambahkan pengemulsi (emulsifier) dimana status kehalalannya adalah syubhat seperti telah banyak dibahas pada tulisan tulisan sebelumnya.  Bahan aditif yang mungkin ada pada ragi instan yaitu bahan anti gumpal (anticaking agent) dimana diantara bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai anti gumpal ada yang status kehalalannya syubhat yaitu E542 (edible bone phosphate, berasal dari tulang hewan), E 570 (asam stearat) dan E572 (magnesium stearat).  Asam stearat dapat berasal dari tanaman atau dari hewan, magnesium stearat dibuat dengan menggunakan bahan dasar asam stearat.  Disamping gum atau dekstrin, gelatin kadang digunakan sebagai bahan pengisi pada ragi instan.

     

                Di pasaran sudah tersedia ragi instan yang sudah dijamin kehalalannya, oleh karena itu pilihlah ragi instan yang sudah dijamin kehalalannya mengingat ragi instan pun bisa tidak halal seperti telah diuraikan diatas.

     
  • adimin 22:02 on August 16, 2013 Permalink | Reply
    Tags:   

    Bahan Pembuat Produk Bakery dan Kue (Bagian 2)

     

    Dr. Ir. Anton Apriyantono

     

    Halal Watch

     

    Bahan Pengembang

     

                Bahan pengembang adalah bahan tambahan pangan yang digunakan dalam pembuatan roti dan kue yang berfungsi untuk mengembangkan adonan supaya adonan menggelembung, bertambah volumenya, demikian juga pada saat adonan dipanggang dapat lebih mengembang.  Jika bahan pengembang dicampurkan kedalam adonan maka akan terbentuk gas karbon dioksida, gas inilah yang kemudian terperangkap didalam gluten (komponen protein yang ada dalam tepung terigu) sehingga adonan menjadi mengembang karena gas yang dihasilkan semakin lama akan semakin banyak.  Bahan yang biasa digunakan yang pertama disebut sebagai baking soda, yang disebut pula dengan nama soda kue, yang isi sebetulnya adalah bahan kimia yang bernama sodium bikarbonat.  Bahan ini dibuat secara sintesis kimia dan tidak ada masalah dari segi kehalalannya.

     

                Bahan pengembang jenis kedua yaitu apa yang disebut sebagai baking powder yang merupakan campuran antara sodium karbonat (baking soda) dengan asam pengembang (leavening acid).  Yang bisa bertindak sebagai asam pengembang adalah umumnya garam fosfat, sodium aluminium fosfat, glukono delta lakton dan cream of tartar.  Dari semua bahan-bahan ini yang tidak boleh digunakan adalah cream of tartarCream of tartar sebetulnya adalah garam potasium dari asam tartarat yang diperoleh sebagai hasil samping (hasil ikutan) industri wine (sejenis minuman keras), itu sebabnya mengapa bahan ini tidak boleh digunakan oleh umat Islam.  Sayangnya, cream of tartar ini banyak digunakan dalam pembuatan kue, banyak tercantum di resep-resep pembuatan kue, bahkan ada dijual dalam bentuk murni cream of tartar.  Oleh karena itu, hindarilah penggunaan cream of tartar, gantilah dengan jenis bahan pengembang yang lain jika dalam resep harus menggunakan cream of tartar karena bahan pengembang lain akan berfungsi sama tetapi halal.

     

                Istilah lain dari bahan pengembang adalah bread improver atau cake improver.  Di pasaran sudah ada bread improver dan cake improver yang sudah mendapatkan sertifikat halal seperti dapat dilihat di daftar produk halal yang ada di Jurnal Halal terbitan LPPOM MUI atau dapat pula ditemukan di http://www.halalmui.org.

     

    Cake Emulsifier

     

                Cake emulsifier adalah suatu bahan yang digunakan untuk penstabil dan pelembut adonan cake, kadang digunakan pula untuk menghemat penggunaan telur.  Di pasaran bahan ini dikenal dengan nama-nama dagang seperti Ovalet, SP, Spontan 88, TBM (istilah jenis cake emulsifier dalam bahasa Jerman), dll.  Status emulsifier secara umum adalah syubhat karena bisa terbuat dari bahan nabati (tanaman) atau hewani (dari hewan) seperti telah banyak dibahas sebelumnya.  Disamping itu, seringkali di pasaran bahan ini dicampur dengan lemak padat, sayangnya tidak jelas jenis lemak apa yang digunakan sehingga menambah kekhawatiran dari segi kehalalannya karena lemak yang memadat pada suhu ruang biasanya adalah lemak hewani disamping lemak nabati yang dibuat dengan cara proses hidrogenisasi minyak nabati.  Oleh karena itu, hindarilah cake emulsifier yang belum mendapatkan sertifikat halal.  Di pasaran sudah ada cake emulsifier yang sudah mendapatkan sertifikat halal, akan tetapi istilah yang digunakan kadang bukan cake emulsifier tapi disebut bakery ingredient dan dijual dengan nama dagang yang tidak mencirikan apakah itu cake emulsifier atau bukan.

     

    Disamping bahan-bahan diatas, ada bahan lain yang sebetulnya masuk kedalam kategori bread improver tapi oleh ibu-ibu digunakan sebagai pelembut cake, bahan tersebut adalah VX.

     

    Dough Conditioner

     

                Dough conditioner merupakan bahan yang berguna multifungsi, bisa melembutkan adonan, mengembangkan adonan, memperpanjang umur, dll.  Itulah sebabnya dough conditioner berisi campuran berbagai jenis bahan diantaranya yaitu L-sistein, tepung kedele, asam askorbat, lemak, gula, pengawet, emulsifier dan gipsum.  Karena mengandung L-sistein (dibahas pada tulisan sebelumnya), lemak dan emulsifier maka status dough conditioner adalah syubhat.

     

    Shortening

     

                Arti sesungguhnya dari shortening adalah lemak atau campuran lemak yang memiliki sifat plastisitas tertentu sehingga mampu membuat makanan seperti roti dan kue menjadi lembut. Untuk tujuan tersebut maka shortening biasanya merupakan campuran lemak dimana bisa terdiri dari lemak nabati semua (biasanya yang sudah dijenuhkan), campuran lemak nabati dengan lemak hewani atau lemak ikan; bisa pula merupakan campuran lemak hewani (lemak babi, lemak sapi) saja.  Oleh karena itu jelas secara umum shortening berstatus syubhat, kecuali yang sudah diketahui komposisinya dan telah dinyatakan halal oleh yang berwenang.  Disamping itu, shortening yang mengandung lemak babi jelas haram.  Untungnya, di Indonesia sudah banyak shortening yang diproduksi didalam negeri dan sudah mendapatkan sertifikat halal.

     

                Di dunia bakery dan kue, istilah shortening memiliki arti lemak, minyak dan berbagai versi olahan minyak dan lemak yang digunakan sebagai ingredien dalam pembuatan adonan.  Shortening bisa mengandung bahan selain lemak dan minyak, bahan tersebut adalah perisa (flavourings), pewarna dan emulsifier.  Bahan yang sama jika digunakan sebagai whipped toppings, buttercream icings, fatty coatings atau sejenisnya tidak akan disebut sebagai shortening.  Fungsi shortening pada pembuatan roti dan kue adalah memodifikasi sifat fisik dan kimia adonan sehingga bisa diolah dengan efisien.  Dengan adanya shortening selama pembuatan adonan dan pemanggangan, adonan menjadi lebih bisa mengembang; shortening juga mampu melembutkan adonan sehingga roti dan kue yang dibuat menjadi lembut.  Dalam beberapa hal, adanya lemak membuat produk menjadi lebih enak dimakan karena memiliki rasa dan aroma yang khas dan enak.

     

                Perlu diketahui bahwa perbedaan istilah lemak dan minyak terletak pada kondisi bahan pada suhu ruang, jika berbentuk padat pada suhu ruang maka disebut lemak, sebaliknya minyak pada suhu ruang berbentuk cair.  Oleh karena itu yang berasal dari hewan biasanya disebut lemak (lemak babi, lemak sapi, lemak kambing, dll) karena bentuknya padat pada suhu ruang, sedangkan dari nabati (tanaman) dan ikan biasanya disebut minyak karena kebanyakan bentuknya cair pada suhu ruang.

     

                Jenis-jenis lemak yang berasal dari hewan yaitu yang pertama adalah mentega (butter), diperoleh dari susu sapi dan status kehalalannya jika tidak ditambahkan bahan lain kecuali garam maka mentega statusnya halal, akan tetapi ada pula jenis mentega yang diragukan kehalalannya, diantaranya adalah mentega yang berbau wangi tajam seperti roombutter.  Yang kedua adalah lemak babi, dalam bahasa Inggris disebut lard, diperoleh dari babi, statusnya jelas haram.  Yang ketiga adalah lemak sapi, dalam bahasa Inggris disebut tallow, statusnya syubhat bergantung kepada asal sapi dimana lemak ini diperoleh.  Jika sapinya disembelih secara Islami maka lemak yang diperoleh dari sapi tersebut halal dan sebaliknya. Akan tetapi, istilah tallow dalam perdagangan memiliki arti lemak hewan, hewan apa saja baik itu babi, sapi, kambing kesemuanya disebut juga tallow, oleh karena itu jika ada mengandung tallow suatu bahan pangan harus dihindari kecuali yang sudah dinyatakan halal oleh yang berwenang.

     

                Lemak nabati diperoleh dari minyak nabati yang dijenuhkan, maksudnya sebagian asam lemaknya yang tadinya tidak jenuh (mengandung ikatan rangkap) dibuat menjadi jenuh dengan menggunakan proses yang disebut hidrogenisasi.  Dari segi kehalalan, yang berasal dari nabati ini tidak bermasalah, kecuali ada bahan tambahan pangan yang digunakan seperti emulsifier dan pewarna.  Oleh karena itu, tetap saja pilih lemak nabati yang sudah mendapatkan sertifikat halal, jika tidak kehalalannya tidak terjamin.

     

                Lemak yang digunakan dalam pembuatan bakery dan kue ada yang diistilahkan secara spesifik sesuai dengan tujuan penggunaannya, contohnya adalah cake margarine, ini adalah margarin yang digunakan untuk pembuatan cake walaupun dapat digunakan pula untuk pembuatan roti misalnya.  Ada pula yang disebut dengan pastry margarine, ini adalah margarin yang digunakan dalam pembuatan produk pastry.  Ada pula yang membagi pastry margarine menjadi dua jenis yaitu yang disebut short pastry margarine dan puff pastry margarine.  Berbagai jenis lemak dapat digunakan dalam pembuatan short pastry margarine termasuk lemak babi (lard), lemak sapi (diambil oleinnya saja), minyak ikan yang dijenuhkan dan minyak nabati yang dijenuhkan.  Ada pula literatur yang menyebutkan bahwa dalam pembuatan pastry margarine sering digunakan lemak babi (lard), tentu saja hal ini terjadi di negara Barat sana karena sumber literaturnya dari Barat.  Apapun istilahnya, lemak yang digunakan dalam pembuatan produk bakery dan kue rawan kehalalannya, dengan demikian kita harus ekstra hati-hati dalam memilih lemak untuk pembuatan produk seperti ini.  Alhamdulilah di Indonesia sudah banyak jenis jenis shortening untuk berbagai keperluan pembuatan berbagai produk bakery dan kue yang sudah mendapatkan sertifikat halal sehingga tidak sulit untuk membuat produk yang halal asalkan kita mau mencari dan menseleksinya.

     

                Setelah mengetahui bahan-bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan produk bakery dan kue nyatalah kedua jenis produk ini rawan kehalalannya, oleh karena itu kita harus ekstra hati-hati dalam membeli kedua produk ini, harus yang sudah mendapatkan sertifikat halal atau berasal dari produsen yang kita percaya memproduksi makanan yang halal.  Hindarilah produk bakery dan kue impor yang tidak dijamin kehalalannya.  Disamping itu, kita juga harus hati-hati memilih produk bakery dan kueh hasil industri dalam negeri karena ditengarai banyak menggunakan bahan-bahan yang belum jelas kehalalannya, bahan-bahan tersebut diantaranya adalah ovalet, TBM, SP, roombutter, dll, disamping jenis shortening atau lemak yang digunakan.  Yang paling aman adalah lagi-lagi memilih produk yang sudah mendapatkan sertifikat halal dari badan yang berwenang di Indonesia (MUI).

     
  • adimin 20:48 on August 14, 2013 Permalink | Reply  

    Glutera 

    Sampai dengan bulan Juli 2013, glutera belum mendapatkan sertifikat halal dari MUI.

    sumber : https://twitter.com/halalindonesia/status/352346890651701248

    Salinan :

    glutera blm dpt SH dari MUI @widiharifah maaf glutera sdh ada SH belum?

     
    • Mira 13:20 on November 11, 2013 Permalink | Reply

      Untuk saat ini glutera sudah mendapatkan sertifikat halal MUI untuk info no sertifikat halal klik nama saya di atas ya…
      http://www.gluteraglutera.com

    • venty 16:50 on November 29, 2013 Permalink | Reply

      Apakah glutera betul sudah punya SH dari MUI ? Karena member glutera sudah sebar info kemana mana katanya glutera sudah ada SH MUI

  • adimin 12:43 on August 14, 2013 Permalink | Reply
    Tags:   

    Ngopi Sedap Tanpa Haram 

    Tulisan di bawah disalin dari milis halal-baik-enak bulan oktober tahun 2012

    http://groups.yahoo.com/group/Halal-Baik-Enak/message/16761

     

    Ngopi Sedap tanpa Haram

    Cermati sebelum menyeruput minuman kopi. Banyak kemungkinan untuk jadi haram.

     

    ‘’Saya nggak ngopi lagi,’’ kata DR Ahmad Sumargono, saat ditawari minuman kopi dalam silaturahim dengan pengurus LAZIS Dewan Da’wah pada malam tahun baru lalu. ‘’Tapi bolehlah kalau yang encer,’’ ralat tokoh aktivis itu tersenyum.

    Ya, siapa tak tergoda minum kopi. Bahkan sebagian orang, pria maupun wanita, sampai kecanduan ngopi. Utamanya mereka yang memiliki mobilitas tinggi dan aktivitas seabreg. Kandungan kafein kopi, membuat seduhan ini mendatangkan efek segar bagi peminumnya. Badan jadi terasa lebih fresh, mata pun terjaga dibuatnya.

    Tak heran, tersedia beragam kopi di pasaran. Dari yang kelas home industry, hingga keluaran pabrikan modern.

    Banyak pilihan kopi. Masalahnya, mana yang halal? Tentu saja yang sudah bersertifikat halal MUI dan terdaftar di Badan POM Depkes. Sebab kalau tidak, sulit bagi konsumen untuk memastikan sendiri status kehalalan kopi.

     

    Kopi Murni

    Ini jenis kopi tradisional, yang akrab disebut kopi tubruk. Ia diolah dari biji kopi yang disangrai dan dihaluskan. Hasilnya berupa bubuk kopi, yang diseduh dengan ampasnya untuk dihidangkan.

    Kopi murni yang terbuat dari 100 persen biji kopi, tak perlu diragukan kehalalannya karena saam sekali tak menggunakan bahan tambahan dalam proses produksinya.

    Untuk memenuhi selera konsumen yang tak mau bibirnya belepotan ampas kopi saat ngopi, pabrikan melanjutkan proses pengolahan dengan mengekstrak bubuk kopi dengan air. Melalui teknik pengeringan tertentu, dihasilkanlah kopi murni instan. Sifatnya lebih mudah larut, dan tidak menghasilkan ampas hitam.

    Kopi murni yang terkenal misalnya Kopi Robusta dan Arabica. Alhamdulillah, Indonesia memiliki sejumlah jenis kopi tradisional yang legendaris seperti Kopi Lampung dan Kopi Toraja.

     

    Kopi Luwak

    Salah satu kopi murni terbaik di dunia yang kita miliki adalah Kopi Luwak. Ia diolah dari biji kopi yang diambil dari feces (kotoran) luwak atau musang kelapa. Konon, setelah dimakan dan dan melewati saluran pencernaan luwak, biji kopi tersebut istimewa cita rasanya ketika dijadikan minuman.

    Kopi Luwak sudah lama masyhur di kawasan Asia Tenggara. Pamornya mendunia setelah dipublikasikan pada tahun 1980-an. Bahkan harganya melejit hingga mencapai lebih 200 dolar Amerika per kilonya. Kopi Luwak pun jadi kopi termahal seantero jagat.

    Lantaran dikorek-korek dari kotoran luwak, biji Kopi Luwak sempat dipertanyakan kehalalannya.

    Melalui fatwa nomor 4 tanggal 20 Juli 2010, MUI menyatakan bahwa Kopi Luwak halal dikonsumsi umat Islam. Syaratnya, biji kopi tersebut harus dicuci atau disterilkan dulu dari najis kotoran luwak.

     

    Kopi Berperasa

    Lantaran terbatas, kopi murni tentu mahal harganya. Untuk mengakali agar produksinya lancar dan harga jualnya terjangkau konsumen, produsen kopi biasanya mencampur kopi dengan bahan lain dalam proses penyangraian. Biji jagung adalah bahan pencampur yang umum digunakan.

    Tentu saja, campuran itu membuat taste dan aroma kopi berkurang. Namun, produsen tak kurang akal. Ditambahkanlah bahan penambah rasa dan aroma (flavor) kopi untuk memperbaiki kualitas produknya.

    Itu dia masalahnya. Penggunaan flavor (perisa) bisa jadi malah membuat kopi yang dihasilkan haram diminum bagi umat Islam. Sebab, flavor kopi dapat terdiri dari puluhan bahkan ratusan bahan penyusun yang rawan kehalalannya.

    Menurut auditor LPPOM MUI, DR Anton Apriyantono, titik kritis perisa meliputi: 1) pelarut yang digunakan, yang bisa menggunakan etanol dan gliserol, 2) bahan dasar pembuatannya, 3) asal bahan dasar yang digunakan.

     

    Coffee Mix

    Salah satu varian kopi adalah kopi campuran atau coffee mix. Campuran paling sederhana adalah kopi (bubuk atau instan) dengan gula, yang sering dilabeli sebagai ‘’kopi duo’’ atau ‘’kopi 2 in 1’’.

    Bentuk campuran yang lebih kompleks adalah penambahan susu, krimer, atau bahan minuman lain seperti jahe dan ginseng, serta penambahan berbagai jenis flavor selain kopi. Bahan-bahan campuran inilah yang menjadikan coffee mix harus diwaspadai status kehalalannya.

    Non-dairy creamer adalah krimmer yang paling umum digunakan sebagai bahan campuran kopi. Auditor LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) MUI, Ir Muti Arintawati MSi, menjelaskan, bahan ini merupakan krimer yang tidak terbuat dari susu. Komponen penyusun utamanya terdiri dari tepung sirup jagung, minyak nabati dan kaseinat dengan bahan tambahan berupa bahan pengemulsi, anti kempal, dan bahan pewarna.

    ‘’Tepung sirup jagung dan minyak nabati berasal dari tumbuhan yang halal. Kaseinat juga berasal dari komponen susu yang jelas kehalalannya. Tapi, cara pengolahan masing-masing bahan tersebut bisa dicemari bahan-bahan penolong yang tidak halal,’’ papar Muti.

    Selain itu, Muti menambahkan, bahan pengemulsi yang digunakan dalam proses pembuatan kopi campuran juga perlu dikritisi. Sebab, ia bisa merupakan turunan bahan yang berasal dari tumbuhan maupun hewan. Nah, hewan apa dan bagaimana menyembelihnya, itu yang jadi masalah.

    Bahan anti-kempal yang digunakan dalam pembuatan kopi campuran merupakan bahan sintetik kimia. Sedang pewarnanya bisa menggunakan bahan alami ataupun sintetik. Meski dari tumbuhan, bahan pewarna alami perlu dipertanyakan bahan pengekstrak ataupun pencampur yang digunakan. Tak boleh menggunakan khamar.

    Titik kritis berikutnya dari coffee mix adalah perisa yang dipakai. Penggunaan perisa yang berbeda, menghasilan varian coffee mix yang beragam pula. Misalnya kopi rasa vanilla, moka, moccachino, toffee, atau capuccino.

     

    Kopi Kemasan

    Selain dalam bentuk serbuk siap seduh, coffee mix juga diproduksi dalam bentuk cair siap minum yang dikemas dalam botol, kaleng, atau kemasan karton beraluminium foil.

    Untuk menghasilkan kopi kemasan dengan konsistensi yang stabil, biasanya perlu ditambahkan bahan penstabil ekstra. Nah, bahan penstabil ini pun bisa jadi tidak halal buat pengopi muslim.

     

    Kopi Kedai

    Ngopi di kedai, bagi sebagian orang, menjadi ritual wajib. Baik kedai tradisional seperti di Aceh, maupun café modern di pusat-pusat kota.

    Prinsipnya sama saja, kalau sudah ada campuran dalam pembuatannya, hidangan kopi harus diwaspadai kehalalannya. Termasuk, konon kabarnya, ada daun ganja yang dicampurkan dalam kopi Aceh. Menurut kaidah fiqih, barang yang memabukkan maka banyak maupun sedikitnya tetap haram dikonsumsi.

    Menu kopi di café modern semacam Starbuck jelas harus lebih dicermati. Misalnya penggunaan emulsifier pada non-dairy krimer nya. Menurut Elvina Rahayu, auditor LPPOM MUI, bahan pengemulsi yang biasa digunakan adalah mono- digliserida yang berkode E-471. Bahan pengemulsi ini bisa berasal dari hewan atau tumbuhan.

    ‘’Kita juga harus waspada jika ngopi di luar negeri, karena tak jarang disajikan
    dengan dicampur minuman beralkohol,’’ Vina yang sering mengaudit ke manca negara mengingatkan.

    Di antara menu kopi manca yang perlu dihindari misalnya Cajun, Danish, Jamaican, Vermont, Tia Maria, dan Spanish Coffee.  â€˜â€™Semua kopi ini mengandung rhum yang termasuk khamar,’’ ungkap Vina. Rhum adalah sejenis minuman keras sekaliber whiskey dengan kadar alkohol tinggi, lebih dari 37%.

    Kopi luar negeri yang juga beralkohol adalah Colonial, Keoki, German Coffee, yang kesemuanya mengandung brandy. Sedangkan English, French, dan Mexican Coffee mengandung kahlua dan London gin. Adapun Irish Coffee mengandung irish whiskey. (nurbowo)

     
    • Adhitya 10:50 on February 26, 2014 Permalink | Reply

      Dear admin,

      Mohon pencerahannya, saya menggunakan biji kopi yang sudah dikemas per kilo nya, kopi ini berasal dari luar indonesia dan tidak terdapat logo halal dikemasannya dan saat saya menanyakan sertifikat halal dari negara asal kepada distributor merekapun tidak memilikinya, yang ingin saya tanyakan apa sudah dapat dipastikan jika biji kopi tersebut halal karena prosesnya hanya seperti yang dijelaskan diatas hanya disangrai? jika saya ingin kedai kopi kami tersertifikasi halal apa bisa biji kopi ini diajukan sebagai bahan mentah seperti halnya cabai, maupun sayuran yang lainnya…?mohon pencerahannya, dan maaf kalau ternyata pertanyaan saya sudah dibahas sebelumnya.

  • adimin 12:49 on August 13, 2013 Permalink | Reply
    Tags: donat   

    Dunkin Donuts – Juli 2013 

    Menurut akun twitter resmi LPPOM MUI pada tanggal 31 Juli 2013, Dunkin Donuts sudah mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI.

    Sumber : https://twitter.com/halalindonesia/status/362482113594925056

    Salinan :

    Dunkin donuts sdh dpt SH MUI RT @ummipandan: @halalindonesia klo dunkin bali bgmn? Pernah dgr ktnya (cont) http://tl.gd/mcs8e3 

     
  • adimin 12:01 on August 13, 2013 Permalink | Reply
    Tags: , luwak   

    Kopi Putih Luwak (White Koffie) 

    Kopi putih luwak sudah mendapatkan sertifikasi halal dari LPPOM MUI Jawa Tengah dengan masa berlaku Sertifikat Halal hingga tanggal 29 Desember 2013 dan nomor sertifikat 1512005281211.

    Sumber : http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/8/1412/30/

    Salinan berita

    Penjelasan LPPOM MUI tentang Kode E471 dalam produk Luwak White Koffie

    Sehubungan dengan semakin maraknya pemberitaan mengenai kandungan E471 pada Luwak White Koffie, maka untuk menghindari kebingungan masyarakat berkaitan dengan hal tersebut, bersama ini LPPOM MUI menyampaikan penjelasan sebagai berikut:

    1. Luwak White Koffie yang selama ini diberitakan, telah memiliki sertifikat halal LPPOM MUI Provinsi Jawa Tengah, dengan masa berlaku Sertifikat Halal hingga tanggal 29 Desember 2013 dan nomor sertifikat 1512005281211.
    2. Mengenai ingredient yang diduga oleh masyarakat berasal dari Babi adalah emulsifier E471. Kode E sendiri merupakan standar internasional untuk aditif dalam produk pangan (Bahan Tambahan Pangan). Bahan-bahan tersebut dapat berupa bahan pewarna, bahan pengawet, bahan pengasam, bahan pemanis, bahan penstabil, bahan pengemulsi, maupun senyawa antioksidan. Adapun E471 merupakan mono dan diglyceride dari fatty acid yang bisa berasal dari hewani maupun nabati.
    3. Emulsifier E471 yang digunakan Luwak White Koffie merupakan bahan yang terdapat pada krimer sebagai salah satu bahan pada Luwak White Koffie tersebut. Dan Krimer pada Luwak White Koffie tersebut diperoleh dari Krimer yang sudah memiliki sertifikat halal LPPOM MUI Pusat. Bahan tersebut sudah dilakukan pengkajian secara mendalam dan berasal dari bahan nabati yang halal.
    Demikian penjelasan ini disampaikan agar masyarakat memahami dan tidak perlu ragu untuk senantiasa mengonsumsi produk yang telah bersertifikat halal MUI.
    Bogor, 17 April 2013
    Direktur LPPOM MUI
    Ir. Lukmanul Hakim, M.Si
     
  • adimin 11:53 on August 13, 2013 Permalink | Reply  

    Status Sertifikasi Halal Starbucks – Desember 2012 

    Menurut akun twitter resmi LPPOM MUI, per desember 2012 Starbucks Indonesia belum mendapatkan sertifikasi halal.

    Sumber : https://twitter.com/halalindonesia/status/279849601232691201

     
  • adimin 00:44 on August 6, 2013 Permalink | Reply
    Tags: jepang, restoran   

    Hanamasa Belum Mendapat Sertifikat Halal MUI – 2013 Juli 

    Sampai dengan bulan juli 2013, restoran jepang hanamasa masih belum mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia.

    Sumber : https://twitter.com/halalindonesia/status/362806111113457664.

    @halalindonesia adalah akun twitter resmi LPPOM MUI

     
  • adimin 21:28 on August 4, 2013 Permalink | Reply  

    Dunkin Donuts Sudah Bersertifikat Halal MUI 

    Status bulan juli 2013, Dunkin Donuts sudah mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia.

    Sumber : akun twitter resmi LPPOM MUI https://twitter.com/halalindonesia/status/362482113594925056

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel